Dilarang Jatuh Cinta Sebelum Kereta Tiba

Libur panjang mengakhiri dirinya di ujung minggu. Mobil-mobil berplat Ibu Kota dan kota-kota besar lainnya memenuhi jalur-jalur perbatasan; memulangkan dirinya masing-masing. Kemacetan terjadi di beberapa titik, di lampu merah, di Jalan Pemuda, hingga di hadapan pedagang kaki lima. Orang-orang berlibur untuk melupakan dirinya di kampung halaman dan berbaik sangka pada hal-hal baru di kota orang. Tapi toh sama saja, semua akan menghardik kemacetan di ujung jalan dan liburan.
“Jangan lama-lama berlibur di kota orang”, Kata Ibu
“Jika kau tersesat, kau akan kehilangan dirimu. Jika kau kehilangan dirimu, kau akan lupa rumahmu”, tambahnya.
Aku hanya menggumamkan kata “iya” dari mulut yang sedang penuh oleh roti tawar, sambil mengikat tali sepatu. Ibu selalu mengingatkanku untuk tidak melulu bergelimang pekerjaan, Ibu pulalah yang selalu menginginkanku untuk pulang lebih awal dari libur panjang. Pernah sekali waktu aku meminta Ibu untuk turut serta, namun Ibu menolaknya. Ibu pernah lenyap di kota orang, Ibu tidak mau dan akan terseret arus untuk kedua kalinya. Alhasil, akulah yang gemar berlibur sendiri. Duduk di dalam kereta sendiri, membeli makan sendiri, berjalan sendiri, pokoknya sendiri. Semua aku lakukan sendiri setelah aku kehilangan Bapak dan Suami. Bapakku meninggal, Suamiku meninggalkanku. Aku membeli penawar luka melalui perjalanan. Kehilangan dunia-akhiratku itu memaksaku untuk menikmati waktu sendiri, sesekali jika memang terlena, aku hanyut di kota seberang.

Hujan reda selepas isya’, jalan raya di depan penginapan mulai kembali dipadati kendaraan bermotor. Aku mengamatinya dari jendela kamarku di lantai dua. Apakah aku akan beranjak, atau aku akan tinggal bersama baju-baju kotor yang belum terkemas. Tiga hari ini kuhabiskan dengan berjalan kaki menyusuri Kawasan Kota Lama, dan berlama-lama di Taman Srigunting. Aku menikmati sore seusai hujan dengan sebuah buku dari Tetralogi Buru dan 650ml dari Surga yang turun ke Bumi; Teh Susu dalam kemasan. Sekiranya dua sampai tiga jam aku sibuk dengan bukuku, sesekali kutengok Pasar Seni yang menjual berbagai barang antik. Ah!

Tapi kali ini hujan menghujam Semarang sedari siang hingga malam. Aku benci jika harus menghabiskan malam terakhir di kota ini dengan hanya tidur dan menonton televisi. Ah! aku baru ingat, kala itu dua orang berbincang tentang acara di Kepodang. Keroncong, ya Keroncong! lekas-lekas aku pergi kesana dengan hanya membasuh muka untuk menghilangkan kantuk. Dari Hotel Raden Patah, aku berjalan melewati Taman Srigunting dan Gereja Blenduk, lalu berbelok menuju arah Kepodang. Dari jauh kudengar lagu yang tidak asing lagi ditelinga

Wis tak lali-lali, malah sansoyo kelingan
Nganti tekan mbesok kapan nggonku
mendem ora biso turu

Aku berhenti untuk menyeka air mata. Apakah ini yang dinamakan masa lalu? sejauh apapun kau menghindar, sedekat itu pula lagu dan hujan membawamu pulang.

“Wanita dengan Buku Bumi Manusia di Taman Srigunting”

Seorang lelaki berkaos abu-abu lengan panjang dengan topi rimba dan kamera DSLR keluaran terbaru menyapaku dari belakang.

“Maaf?”
“Saya melihat anda beberapa hari ini melewati Monod Huis dan menghabiskan sore di Taman Srigunting”
“Iya… benar”, aku masih keheranan
“Saya Juli, kebetulan saya mengelola Monod Huis, dan Keroncong itu adalah salah satu program kerja saya bersama rekan saya”
“Oh… tidak heran jika anda mendapati saya melewati Kepodang dan duduk-duduk di Taman Srigunting”
“Bagaimana Annelies?”
“Apa?”
“Bagaimana Annelies?”
“Oh… aku sempat menangis karenanya”
“Saya melihat anda menengadah dan mengedipkan mata secara cepat. Anda menahan air mata, bukan? apalagi anda sudah mulai memasuki halaman terakhir, saya tahu emosi anda dipermainkan oleh Pram”
“Wow, bagaimana anda…”
“Saya Juli. Mari, menonton keroncong”

Lelaki itu berjalan melewatiku yang sedang kehabisan kata-kata

“Saya Ratna”

Di Kepodang, orang sudah ramai menonton Keroncong. Satu per satu bergantian menyanyikan lagu-lagu jawa. Aku tahu beberapa lagunya, Ibu memiliki setumpuk kaset Bossanova di rumah. Ah, aku jadi ingat Ibu. Laki-laki bernama Juli itu menghilang dan aku biasa saja. Aku mencari tempat untuk menikmatinya dan beruntung seorang lelaki tua menawarkan tempat duduknya. Aku menemukan kebahagiaan kecil malam ini; jalanan sisa hujan, Keroncong, orang-orang asing, dan rembulan yang tiba-tiba melingkar dengan cerah di atas sana.

“Nikmatilah selagi hangat, Ratna.”

Juli membawakanku semangkuk ronde panas

“Ah, terima kasih Juli”

Juli tersenyum dan duduk di sebelahku

“Jadi, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Seperti yang aku katakan tadi, aku mengelola bangunan Monod Huis ini, aku berkeliling setiap hari, ngobrol dengan warga lokal, pemilik toko, pemilik galeri, dan lain-lain”
“Fotografer?”
“Aku mendapat beasiswa Sekolah Fotografi di London selama 3 tahun”
“Wow…”
“Dan kau?”
“Aku seorang pejuang UMR dari Timur Jawa yang ingin menghabisi libur panjang di Semarang”
“Mengapa?”
“Apa?”
“Mengapa Semarang?”
“Mengapa tidak?”
“Itu bukan jawaban, Ratna.”
“Pertanyaan tidak selalu diakhiri dengan jawaban kan, Juli?”

Kami selesai berpandangan dan kembali tenggelam dalam alunan Keroncong. Semangkuk ronde telah habis dan Juli hilang lagi. Tak apa, toh dia hanya orang asing yang kebetulan melihatku. Rembulan meninggi dan menghilang di sudut langit yang lain, aku tersenyum-senyum sendiri menikmati keadaan. Menjadi asing diantara kehidupan yang biasa saja. Menjadi tidak dikenal dan tidak mengenal, apakah aku akan hanyut ke dalam kota ini? akupun tidak tahu.

Para pemain keroncong memberikan salam terakhir diikuti dengan tepuk tangan para penonton. Orang-orang mulai bergegas pulang, penjual ronde mendorong gerobaknya yang telah kosong. Aku menantikan keadaan lengang, aku ingin menyaksikan orang-orang pergi. Pukul 22:12 aku meninggalkan Kepodang, berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong sunyi, dan ia muncul lagi

“Tidak baik bagi wanita sepertimu berjalan sendiri di malam hari begini”

Juli sedikit berlari ke arahku

“Tidak baik bagi pria sepertimu meninggalkan wanita asing yang sedang menikmati Keroncong”
“Apakah kau marah?”
“Untuk apa?”
“Kutinggalkan?”
“Tidak, aku hanya membalikkan kata-katamu saja”
“Jadi pukul berapa keretamu besok?”
“Bagaimana kau yakin jika aku akan pulang besok?”
“Kau kesini tidak membawa buku, kamera, dompet, tas, dan aku tidak sekalipun melihatmu sibuk dengan ponselmu sedari tadi. Terlihat bahwa kau sudah tak menginginkan apa-apa lagi di sini, kau siap pulang. Kau hanya ingin menikmati malam terakhirmu di sini”
“Apakah kau seorang peramal”
“Terjitu dari yang paling jitu”

Aku tertawa, dia tertawa

“Jadi pukul berapa?”
“Sepuluh malam, tapi aku akan di Stasiun sedari sore”
“Untuk apa?”
“Untuk menikmati sesuatu”
“Dan apakah itu?”
“Sebuah festival”
“Oh ya? apakah ada festival di Semarang Tawang besok?”
“Ada”
“Oh ya?”
“Aku yang membuatnya. Datang saja bila mau”
“Tidak membeli oleh-oleh?”
“Mungkin aku besok akan berkeliling sekali lagi, semata untuk membekali kepala dengan kenangan”
“Kemana?”
“Tidak tahu”
“Boleh aku antar? kau tidak akan menyesal”
“Baiklah”
“Kita berjumpa di Jembatan Mberok pukul tiga sore”
“Baiklah”

Juli mengantarku sampai ke depan hotel. Kami saling melambaikan tangan.

Pukul dua siang, hujan datang lagi sedikit deras. Sebuah tas backpack 40 liter menemaniku di ruang tunggu hotel. Aku menunggu hujan sedikit reda untuk bergegas. Seorang resepsionis menghampiriku dan memberiku sebuah kotak terbungkus kertas berwarna cokelat bertuliskan namaku di atasnya. Aku tidak yakin itu apa, mungkin souvenir dari hotel.

“Ratna”

Juli memanggilku dari depan pintu hotel, memakai payung hitam dan memeluk tas yang dirapatkan di dadanya.

“Hai, kita berjanji bertemu di Jembatan Mberok, kan?”
“Aku kira aku menebus kesalahanku semalam, jadi aku menjemputmu”
“Baiklah, ayo”

Juli mengajakku menelusuri daerah Layur. Hujan yang sedikit deras tadi kian mereda hingga akhirnya berhenti. Juli menunjukkan beberapa rumah yang tanahnya mengalami penurunan hingga ambles, tidak heran jika pintu dan jendela terlihat sangat rendah dari proporsi rumah pada umumnya. Aku terkagum-kagum dan menghujani Juli dengan berbagai pertanyaan. Lalu hujan kembali datang, kali ini memang deras. Juli membuka payungnya dan melingkarkan lengannya dipundakku untuk merapat ke arahnya.

“Kita cari tempat berteduh dulu, tidak apa-apa?”
“Baiklah”

Kami berteduh di bawah beranda gedung kuno yang sudah dijadikan sarang ular dan ilalang. Jalanan tenggelam dalam hujan yang kian deras, aku tenggelam dalam obrolan bersama Juli. Entah mengapa semalam aku merasa asing dengan Kepodang dan saat ini aku merasa seakan sudah lama mengenal Juli. Obrolan tentang Kota Lama tidak habis-habisnya dibahas. Sampai Adzan Maghrib menggema, kami baru sadar jika hujan telah usai. Barangkali memang untuk menikmati waktu, kita harus sejenak melupakannya.

“Tunggu di sini ya, aku akan memesan tiket untuk ke Ibu Kota”

Juli meninggalkanku di ruang tunggu Stasiun Semarang Tawang. Aku lelah, tak disangka, empat hari di Semarang bisa juga kurasakan lelah. Telah lama aku menerapkan tidur secara kualitatif, artinya aku harus bisa tidur dimana saja, sebentar-lama tidak masalah. Ya, aku tertidur tidak terasa aku tertidur. Tertidur di stasiun yang masih ramai dengan orang-orang yang menunggu kereta. Nyenyak, nyenyak sekali.

Aku terbangun diantara kumandang Adzan Isya dan kudapati diriku tengah bersandar pada bahu Juli, sementara lengannya melingkar di pundakku. Sontak aku kaget dan menegakkan tubuh

“Ketinggalan kereta?”
“Ah, tidak. Aduh, maaf. Aku ketiduran. Maaf merepotkan. Aduh”
“Tidak apa-apa, Ratna”

Juli menarik lenganku dan mengembalikannya pada pelukan. Wajahku memerah. Aku tidak tahu ini apa tapi yang jelas, aku tidak pernah seberdebar ini sebelumnya

“You have to let it go”
“Let what?”
“Sesuatu pernah melingkar di sana, sedang kau sudah ke berbagai tempat. Matahari hanya mengitamkan jemarimu yang lain. Tapi selalu ada bekas di sana, meski sudah tidak kau pakai”
“You don’t know about anything”
“I am. Tapi setidaknya aku tahu apa yang pernah terjadi pada jari manis tangan kananmu, Ratna”

Tangan kiri juli mendarat di atas kepalaku, membelainya lembut.

“Aku tidak mengenalmu, Juli”
“Akupun tidak, Ratna”
“Kata Ibu, dilarang memeluk orang asing saat sebelum berpisah”
“Orang-orang yang gemar menasehati adalah orang-orang yang telah mengalami hal tersebut. Aku tidak mengenalmu, tapi aku bertemu denganmu”
“Sesingkat ini?”
“Untuk apa?”
“Untuk jatuh ke pelukanmu?”
“Aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, tapi aku bisa membuatmu jatuh ke pelukanku. There’s something in your eyes, I saw it when I met you for the fist time”
“Aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi”
“Tidak mungkin. Kaupun kesini karena ada sesuatu yang kau harapkan dari hidupmu. Kau sedang berlari, Ratna”
“Aku lelah”
“Aku tahu”
“Aku tidak tahu”
“Seseorang bertemu, lalu berpisah. Ingatan yang bebal bertahan di kepala itu dikarenakan oleh perasaan yang ikut-ikutan”
“Bagaimana dengan keadaan yang memaksa si perasaan ikut?”
“You have to let it be, Ratna”

Kesunyian kami tenggelam dalam keramaian

“Aku harus beranjak sekarang”
“Tapi keretaku belum datang”
“Aku minta maaf”
“Aku antar kau mencari taxi”
“Baiklah”

Bagaimana ini? aku pulang dalam keadaan canggung. Mengantar lelaki asing yang memberikan bahunya untukku baru saja.

“Aku harus pergi”
“Aku juga”

Juli tenggelam dalam taxi dan meninggalkanku seorang diri di depan Stasiun Semarang Tawang.

“Dia tidak memelukmu? mengecup keningmu?”

Seorang tukang service jam di sebelahku tiba-tiba menyindir

“Maaf, Pak?”
“Laki-laki itu meninggalkanmu begitu saja? tanpa memberikan pelukan sebelum pergi? sungguh laki-laki yang tidak laki-laki”
“Biarlah, Pak. Toh dia juga orang asing. Saya baru mengenalnya kemarin malam”
“Keretamu pasti pukul sepuluh malam?”
“Benar, Pak”
“Dan dia tidak menungguimu sampai keretamu sampai?”
“Benar”
“Nona, Membiarkan wanita menunggu kereta sendirian adalah bentuk kejahatan yang menyamar”
“Lalu?”
“Kau tahu peraturannya, Nona”
“Apa itu, Pak?”
“Dilarang jatuh cinta sebelum kereta tiba”

Aku menghela nafas panjang

“Aku sudah cukup untuk merasakan jatuh cinta, Pak. Saya tidak perlu lebih”
“Tapi kita harus berbaik sangka kepada laki-laki itu”
“Untuk”
“Barangkali ini hanya sandiwaranya saja. Kadang-kadang laki-laki juga ingin dikejar perempuan. Aku, sudah banyak melihat perjumpaan dan perpisahan yang terjadi di Stasiun ini. Dan kali ini Nona, hhhmm… fenomena yang sangat langka”
“Kau mengigau, Pak”

Aku berbalik dan memunggungi tukang service jam itu, berjalan kembali ke dalam Stasiun Semarang Tawang

Aku tidak akan mengambil hati dan membiarkan perasaanku ikut kedalam semua ini. Semua ini hanya fana, fana, fana. Mungkin Juli hanya orang yang kesepian, menemukanku yang juga kesepian, dan kesepian kita saling menemukan, saling memberi rasa nyaman. Aku pergi, Juli. Kau kuletakkan di depan pintu Stasiun Semarang Tawang, tak mungkin kubawa pulang… meski hanya singgah di ingatan

“Ratna!!”

Aku berbalik. Juli berlari dan memelukku. Kami membeku, dan tanganku terlalu kaku untuk membalas pelukannya. Kulirik tukang service jam hanya manggut-manggut dan membenarkan letak jam yang bertumpuk.

“Stay”, ucap Juli

“Dilarang jatuh cinta sebelum kereta tiba”

“Dilarang membuka kotak terbungkus kertas cokelat sebelum kereta berangkat”

Juli memeluk erat, aku membalas peluknya. Lenganku saling melingkar di tengkuknya, dan sesekali kulihat bekas cincin di jari manis tangan kananku

“You have to let it go”

“Let it be”

Sri Ratna dalam Kemuning Malapetaka

Hari yang tidak kuinginkan itu bernama malapetaka, ya! sesuatu yang tak kuhendaki akhirnya meledak dari senapan bernama mandat-mandat para penguasa, bahwa aku dan Bapakku harus ditangkap! Siang itu kurasai aku sebagai seorang anak manusia yang gelap mata, tak tahu arah, pontang-panting ke seluruh penjuru kota. Kucari Bapakku di rumah-rumah kawannya, Bung Darman, Bung Wiryo, Haji Waru, nihil. Nihil! kuketuk, kugedor, tiada satupun pintu yang terbuka. Seluruh kocar-kacir bak belantara hutan sehabis dikuasai pabrik-pabrik Kelapa Sawit. Pos-pos, bendera-bendera, bahkan beberapa manusia menjadi amukan si jago merah. Panas, membara, pun juga hati ini. Semua orang berbondong-bondong lari kesana-kemari, satu diantaranya kutangkap dengan lenganku dan kuhujani pertanyaan, namun yang mampu dijawabnya hanya pertanyaanku “mau kemana Tuan akan pergi?”, ia menjawab “kemanapun asal tidak tertangkap. Ngeri, Bung… sungguh Ngeri”. Serupa pemancing amatir, lelaki paruh baya itu lepas dari tangkapanku, lari sekencang-kencangnya memikul kain berisi baju, celana, dan beberapa buku yang disampul khusus. Suara tembakan mulai tertangkap kedua telingaku, bahaya! kabur Wiryo, kabur! tapi dimana Bapakku? aku tidak akan pergi tanpa Bapakku. Dengan kaos putih polos yang telah lusuh oleh debu dan keringat, juga celana coklat yang sudah sobek sana-sini, apalagi kaki yang sudah melupakan alasnya, aku mencari ketiap sudut kota. Sesekali aku melihat petugas gendut mendapati diriku tengah berhenti untuk mengambil nafas, dia berteriak dan mengacungkan pentungan, aku terpaksa lari dan lari lagi. Beruntung aku kurus dan dia gendut, aku lari untuk kesekian kalinya dalam hari ini.

Putus asa merajang dada, langit sudah lelah dengan sinarnya. Maghrib telah tiba dan samar-samar adzan terdengar dari Masjid ujung jalan. Aku tak punya pilihan lain, aku harus mengakhiri kegiatan berlari dan mencari Bapak, dan pulang. Oh, betapa akhirnya aku merindukan sebuah rumah, rumah gubuk di atas bukit, rumah yang beralaskan tanah, rumah yang dipenuhi asap kayu bakar dan aroma sayur masakan Ibunda. Oh Ibu, tolonglah anakmu ini! Aku mencari jalan yang tidak dilewati manusia, melewati perkebunan tebu, alang-alang setinggi dada, hingga menyebrangi anak-anak sungai. Sesekali kuseka wajah dan tubuhku, apa jadinya jika Ibunda melihatku lusuh-lusuh begini. Aku berhenti sejenak, di tepi sungai memandang rembulan dan pikiranku masih melayang pada Bapak di tengah kota, entah tengah yang mana, dan Ibunda di atas bukit. Awal malam tanpa cahaya, kecuali pantulan sinar rembulan yang setengah penuh, jatuh di aliran sungai dari ujung… ah, apa itu! sebuah benda serupa kayu yang ditebang, tapi terlalu lentur untuk sebuah kayu, berayun mengikuti arus sungai, lurus, menuju arahku. Kuruncingkan pandang, dan! Oh Tuhanku! seonggok tubuh manusia hanyut tanpa kepala, tanpa kepala! tidak hanya satu, bahkan dua, lima, sepuluh! Ah aku tidak tahan, aku lari sekencang-kencangnya, membelah hutan, seperti kesetanan dalam nurani aku mempertanyakan keberadaan Tuhan, aku sembahyang berhari-hari, bertahun-tahun, berpuasa, bermaaf-maafan, dan apa ini Tuhan? manusia melawan manusia. Malapetaka!

Aku terhuyung dan hampir kehabisan nafas, gubuk kami tenang-tenang saja seakan tidak terjadi apa-apa di bawah sana. Kuberanikan diri membuka pintu rumah meski tanganku sudah tidak serupa tangan lagi. Rumah masih tetap sama, nasibnya pun sama seperti malam-malam sebelumnya; dikelilingi gelap. Sementara hanya sebuah lampu cempluk yang berkobar di pojok ruang, menerangi di sekitarnya; amben tempatku tidur, mejaku tanpa buku-buku, kertas, foto-foto yang selama ini menjadi guru atas akal dan pikiranku -selain Bapak tentunya, dan Ibu! Ibu duduk dengan sangat manis dan tenang di atas ambenku. Masih dengan kain kebaya putih yang sudah kecoklatan dan jarik coklat yang menutupi kakinya hingga mata kaki. Rambut yang disanggul sederhana ke belakang tanpa ada satu helaipun yang keluar dari ikatannya. Ya! itulah Ibuku… Sri Ratna! segera aku bersimpuh memeluk kedua kakinya yang dibalut jarik coklat. Tiba-tiba aku menangis tersedu sedan dan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahanku; tidak bisa menemukan Bapak. Bukit masih sunyi, pun juga gubuk kami. Hanya sinar remang lampu cempluk yang menari-nari ditiup angin dan membuat bayang-bayang kami menari. Tangan Ibu yang lembut itu mengusap-usap kepalaku , meski setiaphari dibuatnya mencari, memotong kayu bakar dengan parang, tetaplah tangan terlembut yang pernah ada.

“Le…”, akhirnya keluar kata-kata dari mulut Ibu.

“Bapakmu ditangkap. Mungkin sekarang dibawa pasukan, di bak truk, atau di penjara.”, ucap Ibu tenang, tenang sekali.

“Bu, maafkan anakmu tak bisa menemukan Bapak. Ngapunten, Bu…”

“Le… anakku, Wiryo Damar. Bapak sudah berpesan bahwa mungkin sebentar lagi keadaan akan terbalik. Mungkin dia akan ditangkap. Tadi pagi sebelum ia pergi denganmu, Bapakmu minta maaf kepada Ibu, maaf karena telah membuatmu ikut dalam arus Bapakmu. Semuda kowe, Le… harus menanggung akibat dan kekejaman yang kini tengah berkuasa.”

“Ibu, Ibundaku… Wiryo sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa Bu, sungguh. Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Bu? Sisa hidup kita akan kita habiskan dengan lari, lari, dan berlari. Dengan atau tanpa Bapak. Harusnya aku yang bisa membuat Ibu tenang di gubuk ini. ”

” Le… tahu kau mengapa Ibu mau dipinang Bapakmu dulu?”, Ibu mencoba mengalihkan perhatian, mengenang masa indah bersama Bapak, Ah… bukan waktu yang tepat, Bu. Tapi apalah daya, ceritamu dari dulu adalah dongeng tak berujung dan kedua telingaku selalu haus akannya.

“Le…”, Ibu memulai

“Ibu dulu hanya gadis desa anak tukang pemecah batu. Ibu hanya mengerti dapur dan adat-adat leluhur. Ibu tak mengenal dunia luar. Bapakku, Le…orang yang keras, lebih keras dari batu-batu yang ia pecahkan. Tak boleh aku keluar rumah melebihi pekarangan ala kadarnya itu. Bapak bilang kalau Ibumu ini memiliki senjata mematikan yang bernama kecantikan. Cantik Ibumu, lelaku Ibumu ini, tidak boleh jatuh ke sembarang lelaki. Entah darimana kabar tersiar, akhirnya banyak lelaki yang datang ke rumah Ibumu ini dulu. Dari teman Bapak yang sesama tukang pemecah batu, lalu kuli angkut beras, anak kepala desa, hingga lelaki berumur 65 tahun! 65 tahun, Le! Bayangkan betapa Ibumu harus selalu dipingit oleh Bapak. Hari demi hari rumah Ibu dipenuhi dengan kebaya-kebaya baru, hasil bumi, hingga perhiasan dan tusuk konde dari kuningan berukiran Semar di ujungnya. Bayangkan, Le! Tapi Ibu tetap di dapur, menjaga bara api untuk tetap menyala. Lalu datanglah suatu hari, hari yang selamanya akan mengubah nasib Ibu. Kala itu Ibu sedang memasak air di dapur, karena hari mulai maghrib dan Bapak akan datang. Tiba-tiba terdengar suara ribut di luar rumah, tapi Ibundamu ini tiada berani mengintip ke luar. Tiba-tiba seseorang mendobrak masuk dan kau tahu, Le… Bapakku bersimbah darah di sekujur kepala, dipapah oleh seorang lelaki yang kira-kira dua tahun di atas Ibu. Ibu langsung mencari air dan kain untuk membersihkan luka Bapak. Tangan Ibu gemetar sekali, takut kalau-kalau Bapak telah melawan seorang yang mempunyai jabatan. Lalu lelaki itu berkata

” Bapak melawan Mandor sore tadi, karena upah yang diterimanya tidak sesuai dengan kesepakatan. Hanya Bapakmu yang berani menentang.”

Ibu masih gemetaran dan air mata jatuh deras tak terhingga

” Bapakmu hampir sekarat, untung aku bisa menyelamatkannya. ”

” Terima kasih Tuan… entah dengan apa kami bisa membalas baik budi Tuan…”

kali ini suara Ibu terdengar lebih dalam.

” Memang benar kata orang-orang, kau sungguh cantik… Sri.”

“Tahu kau, Le… saat itu hati Ibu sudah tak terasa sebagai hati. Degup jantung terasa mondar-mandir tak karuan. Bapak yang sekarat, dan lelaki mencoba meminangku. Lalu Bapak berkata di sela-sela sakitnya

” Sri… anak muda ini, sudah menyelamatkan Bapak, mungkin juga ini Bapak sudah sekarat. jadilah istrinya, senjatamu kini bukan lagi cantikmu, tapi keberanian lelaki muda ini. Lelaki ini harus diredam dengan kasih sayang seorang wanita lembut sepertimu. Nduk… Sri…”

Tak lama bapak lemas, tak berdaya, hingga datang ajalnya, Le. Itulah petuah yang disampaikan Bapak untuk terakhir kalinya. Awalnya Ibu tak tahu apa maksud ucapan Bapak dulu, dan tibalah hari itu. Di depan penghulu Ibu mengucap janji suci bernama Panji Bumi, yang tak lain adalah Bapakmu, Wiryo… Ibu hanya diberi kebaya yang sekarang Ibu pakai dan buku tulis dan pena.

Hari-hari pun juga berlalu, Le… Ibu kini menjadi seorang istri. Diboyong lelaki sekali kenal, keluar dari desa dan hidup di desa lain. Tapi kau tahu, Le… diajarkannya Ibu baca tulis. Setelah bisa membaca dan menulis, Ibu diajarkan tentang ilmu-ilmu, seperti ilmu alam ilmu berhitung. Sungguh Le… Ibu tak hanya mengenal dapur, Ibu bahkan mengenal dunia luar tanpa harus meninggalkan dapur dan rumah. Sesekali Ibu mendengar cerita dari Bapakmu tentang politik, tentang Rusia, Cina… negara-negara itu Le… pasti kau juga mendengarnya dari Bapakmu.

ya…ya… aku tengah memutar memori saat Bapak menunjukkan buku-bukunya

di meja yang kini kosong itu!

“Lalu….”, Ibu melanjutkan, masih dengan irama nafas yang teratur dan tangannya yang masih mengusap kepalaku yang basah karena keringat

“Bapakmu berkata… Sri… kini kau mengerti siapa suamimu, suamimu adalah seorang dengan pikiran yang keras…

sempat aku teringat kakekmu, Le..

Sri… kau harus menyiapkan hatimu, kau harus siap dengan segalanya, dengan kejayaan, bahkan dengan kehilangan. Pun kau tahu, aku ini musuh orang-orang atas dan kawan orang-orang tertindas. Aku sering tinggalkan kau di malam-malam hari, aku bergerilya menolong orang-orang bernasib seperti Bapakmu dulu. Telah banyak aku berdosa padamu, Sri… kini, anak kita satu-satunya… Wiryo Damar, tlah ikut menjadi Panji Bumi. Tapi, setiap aku memikul jarak darimu, Sri… tlah kuucapkan beribu cinta kepada Allah, aku memohon bahwa kau akan diselamatkan dari pekerjaanku yang membahayakan ini. Entah apa jadinya jika bukan kau yang menjadi istriku, Sri… Kadang, memandangi wajahmu itu sudah cukup meredamku dari amarah di luar sana…

Aku bangkit dan meraih kursi di sampingku, sungguh tak berani menatap wajah apalagi

mata Ibunda… aku meringkuk, memegang kedua tangannya.

“Le… Wiryo Damar… saat genting seperti ini, kau pergilah. Pergi yang jauh nak… kau harus selamat.”

“Mboten, Bu… Wiryo akan pergi dengan Ibu, bersama-sama kita akan mencari Bapak. Dan kita akan mencari tempat tinggal baru Bu… memulai dengan yang baru. Entah kejadian ini sebuah kesalahan atau sesuatu yang sengaja disalahkan, tapi ayo Bu… berkemas. ”

“Ndak, Le… kau saja yang pergi. Ibu tidak bisa berlari, Ibu akan menyusahkan pelarian kita. Ibu akan tinggal…”

“Akan kugendong kau, Ibunda…”

“Le… kaulah yang harus selamat diantara kita bertiga, mungkin hanya kau saja. Biarpun kau tak menempuh sekolah-sekolah, tapi kau telah lulus dari sekolah Bapak-Ibumu. Ibu mendidik kau dengan kelembutan, dengan kasih, dengan beribu cinta, sementara Bapak tlah mendidik kau dengan ilmu-ilmu, dengan keberanian… dan lihat… kaupun sudah berani menulis untuk surat kabar! Betapa senangnya dulu hati Ibu nak…kau bukan kaum terpelajar, tapi keberanianmu telah menembus lorong-lorong kelam, lebih-lebih kau berbicara tentang kemanusiaan! Untuk itu… kaulah yang harus lari, kau harus tetap hidup. Kau harus menjadi saksi mata atas kekejaman manusia hari ini, kau ingat dan kau simpan rapat-rapat di dalam hati dan akal pikiranmu. Ingatlah kaum-kaum terinjak yang kau perjuangkan bersama Bapak. Mungkin Bapakmu sudah mati, tapi kau harus tetap hidup! pergi dari tanah terkutuk ini, nak… pergi ke negeri seberang, yang terjauh sekalipun, dan yang terpenting entah itu dengan mulut, entah itu dengan pena, gaungkan pikiran-pikiranmu, berteriak-teriaklah tentang kemanusiaan yang telah terijak ini. Tapi kau harus adil, kau harus selalu terbuka pada hal-hal baru, karena Le… Ibu dan Bapak sudah tidak akan ada di sampingmu…”

Aku bangkit, lalu mencari selendang. Mencari baju-baju Bapak dan Ibu, mengambilnya dan menaruhnya di atas selendang, kuikat, dan silangkan di pundakku. Aku berjongkok membelakangi Ibu, lampu cempluk hampir padam.

” Ayo, Bu… aku gendong kau, Bu…”

” Ibu tinggal, Le… ”

” Bu, aku sayang kau dan juga Bapak. Ayo Bu kita akan cari Bapak. ”

” Le… takdir Ibu adalah untukmu dan Bapak. Untukmu, aku perintahkan kau pergi, untuk Bapak, aku akan menunggunya. Meski dia tak pernah datang, tapi wajibku sebagai istri adalah untuk menemani perjuangannya, bukan hanya badannya. Pergilah untuk Ibundamu ini, pergilah dan ingatlah semua ini… tidak ada perjuangan tanpa menyisakan kematian. Kau orang yang tangguh, kuat, dan orang-orang yang kuat itu hidupnya sangat dekat dengan kehilangan. Persiapkan hidupmu untuk selalu kehilangan. Orang-orang sepertimu, seperti Bapakmu, akan selalu kehilangan, dan ini harus kau katakan kepada calon istrimu kelak. ”

” Tapi Bu, kehilangan Bapak adalah neraka batin, kehilanganmu, neraka di atas neraka Bu… kau kasihi aku dengan sepenuh hati, bahkan aku belum sempat membalas segala yang kau berikan… belum…”

” Le… menjadi seorang Ibu itu tugas berat, lebih berat dari beras-beras yang dipikul kuli pasar, yang kerap kali datang ke gubuk ini meminta bantuanmu. Tapi melihatmu seperti ini, Le… Ibu hanyalah seorang Ibu yang ingin anaknya tetap hidup dan melahirkan cita-citanya. Apa yang sesungguhnya diharapkan oleh seorang Ibu? tidak ada Le… Ibu sudah cukup mendapatkan apa yang Ibu inginkan. Ibu dulu wanita dapur, kini Ibu adalah wanita yang melepaskan anak semata wayangnya. Tahu kau mengapa aku hanya mempunyai seorang anak? seorang kau? sebab itulah jalan yang akan kau tempuh! pejuang-pejuang itu, Le… kerap berjalan sendiri. Untuk Ibumu, pergilah… dan berjanjilah akan selamat. ”

Kurasakan Ibu bergerak, tak berdiri, tetap dengan posisi yang sama ketika aku datang, hanya kedua tangannyalah yang meraih tusuk konde dan dicabutlah… rambut hitam panjang terkulai hingga punggungnya, bahkan dalam bayang-bayang ini bisa kurasakan kecantikan seorang Sri Ratna. Seorang Ibu yang mempertaruhkan nyawa demi suami dan anaknya, yang mengorbankan tubuhnya agar anaknya selamat, dan menunggu bersama waktu hingga pintu diketuk oleh tuan-tuan tak berhati itu?

Oh sungguh, Ibu…

Aku masih terjongkok membelakangi Ibu, seakan posisi meminta ia naik ke punggungku ini terus meminta ia, meski sia-sia. Ibunda meraih sisir dan menyisir rambutku yang gondrong tak beraturan. Disisirnya rambutku kebelakang, digulung, dan ditusukkan tusuk konde itu diantara rambutku yang menggulung, ia usap-usap sembari bersenandung…

Gundul-gundul pacul-cul… gembelengan…

nyunggi-nyunggi wakul-kul… kelelengan…

Aku berdiri dan masih membelakangi Ibu, tak kuasa menahan haru. Yang bisa kubayangkan adalah saat Ibu mengantarku tidur dengan lagu itu…bahwa semasa kecil aku boleh bertingkah apa saja, aku boleh gembelengan namun kini, ia tak lagi mengantar aku tidur, ia mengantarku pada sebuah kepergian…

wakul ngglimpang segane dadi sak latar….

Aku tak lagi si gundul, kini di kepalaku aku memikul beban, memikul sebuah tanggung jawab, dan aku tidak boleh gembelengan… aku memikul, mewakili tiap-tiap nafas kemanusiaan

wakul ngglimpang segane dadi sak latar….

Aku berjalan sedikit demi sedikit meninggalkan Ibu yang kini mulai keras menyanyikan Gundul Pacul. Tusuk konde di rambutku kini seakan menarikku untuk kembali ke pelukan Ibu, aku ingin mati di pelukan Ibu saja tapi aku tak bisa… Ibu telah mengantarku dengan Gundul Pacul… Ah, mengapa gubuk ini kecil sekali hingga pintu terasa sangat dekat? Dan, pintu itu kupegang, kubuka… aku pergi, dan pamali jika aku kembali, aku akan kena murka Ibu. Entah dosa, entah apa, tanpa mengecup kening dan mengucap pisah, kaki ini berlari sekencang-kencangnya. Membelah-belah bukit, melewati sungai-sungai, terseret arus, hingga terguling di jurang; ditangkapnya aku pada sebatang pohon mati. Malam bising akan raungan tangisku, dan hening akan kepergianku. Seakan-akan Ibu masih mendendangkan si Gundul Pacul, hingga kinipun kurasai aku jatuh ke pelukannya, bukan ke batang pohon ini. Aku tlah jauh naik ke atas bukit, jauh, jauh, dan kurasakan dingin yang menusuk-nusuk sendi. Kulihat di bawah sana, kota-kota berkobar nyala api, asap hitam membumbung dari rumah ke rumah, dan juga sebuah gubuk kecil di kaki bukit.

wakul ngglimpang segane dadi sak latar….

 

Sindy Asta

2016.

Merayakan Hidup dan Mati; Ibu

Takdir membuatku kehilangan seorang Ibu di usia 13 tahun, usia yang menurutku adalah masa dimana seorang anak perempuan paling membutuhkan bimbingan seorang Ibunya. Serupa rumah, Ibu adalah guru terbaik untuk mengenalkan apa itu pintu, pintu yang akan membawa si anak perempuan ini ke dunia luar. Si Ibu akan mengajarkannya cara memegang gagang pintu yang benar, harus diputar ke arah manakah agar si pintu akan terbuka, bagaimana cara melangkahkan kaki perlahan keluar dari rumah, bagaimana cara menutup pintu yang benar, hingga ucapan, susunan kata hingga kalimat apa saja yang harus ia ucapkan di luar sana. Barangkali di rumah, si anak perempuan ini bisa berbuat sesuka hatinya, berbicara sekeluar kalimat dari mulutnya, dan apapun sesuai kehendak hatinya. Namun di luar sana, puan… hatinya harus rela menjadi nomor dua. Segala hal yang bersifat duniawi akan berebut, beradu sikut untuk menjadi nomor satu. Disitulah terkadang, orang-orang yang menyebut dirinya dewasa itu kerap kehilangan hatinya, terlalu mudah memainkan peran hatinya di setiap jejak langkah. Di sinilah lagi-lagi peran si Ibu itu berlangsung. Ibu, sebagai rumah awal yang kau tinggali selama 9 bulan itu sesungguhnya akan menunjukkan kemanakah ego dan hatimu harus kau bawa di luar sana. Ibu adalah sebaik-baiknya navigasi untuk ego dan juga hati.

Bayangkan ini, skema di atas tidak berlaku di dalam kehidupanku, kehidupan seorang Sindy Asta. Si Sindy kecil di umur 13 tahun itu tidak bisa lagi menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang anak perempuan yang haus akan pelajaran, nilai-nilai, dan sesuatu yang bernama cinta. Bayangkan ini pula, aku tergopoh-gopoh mencari makna sebuah pintu, mencari cara membukanya, buta arah akan kaki yang akan melangkah keluar, sebab rumah itupun sudah runtuh, sudah hilang tak dapat dijamah. Aku berdiri di tengah kekosongan, dan di hadapanku adalah dunia luar dengan tanda tanya besar. Lalu, akankah aku hidup dalam kekosongan, atau mati dalam kekosongan? Berbahagialah kalian yang masih beribu, atau bahkan kalian adalah seorang Ibu. Rawatlah, dan jadilah penghuni rumah yang baik selagi bisa. Tapi yang ingin kusampaikan adalah bukan untuk mengumbar air mata, bahwa sedih itu iya, bahwa tangis itu pasti, tapi proses menyeka air mata itu yang ingin kutunjukkan bahwa rumah itu tidak harus dibangun kembali.

Hari-hari itu perlahan berlalu, tak bisa dipungkiri bahwa aku juga mengalami masa-masa terburuk dari yang paling buruk. Namun, kan yang kutanam adalah kaki, bukan lutut. Lekas-lekas aku mengemas kesedihan dan mulai bertanya dan menjawab, akan kemana setelah ini. Hidup tanpa sosok Ibu panutan membuatku mencari sosok yang menggambarkan bagaimana perempuan itu akan menjadi role model. Tak bermaksud menjadi sepertinya, namun mencoba untuk menghidupkan kembali sosok “Ibu” di dalam diriku. Panjang umur para pencinta buku, dan aku bersyukur aku gemar tenggelam diantara tumpukan buku. Dari buku pulalah aku menemukan dua sosok perempuan yang hingga saat ini benar-benar kukagumi. Satunya adalah tokoh nyata, satu lagi adalah tokoh Fiksi, namun keduanya tetap memberikan energi yang begitu besar. Bukankah sebelum kebencian dan kecintaan, aku harus mengisi diriku dengan ilmu terlebih dahulu? agar benci dan cinta ini berlabuh pada sesuatu yang tepat.

Barangkali kau yang membaca ini juga mengenal dua sosok yang akan kusebutkan ini. Seorang wanita ini adalah pengiring Sang Bapak Bangsa menuju Gerbang Istana, Seorang lainnya adalah seorang tokoh fiksi yang sangat menonjol dalam Tetralogi Buru. Ya, Bu Inggit Garnasih dan Nyai Ontosoroh. Dua wanita perawakan Sunda dan Jawa dengan segala karakter yang dimilikinya, membuatku mengangan-angankan sosok wanita yang sanggat tangguh, berani, dan yang paling penting, sifat Keibuannya. Dalam anak-anak anganku, kugambarkan mereka yang selalu memakai kain kebaya, sesekali warnanya putih dengan corak bunga yang sederhana, memakai jarik batik, dan rambut yang diikat padat membentuk sanggul kecil di kepalanya. Sebuah paras lembut sekaligus tegas begitu jelas tergambar di sini, di dalam kepalaku.

Aku membayangkan bagaimana Bu Inggit yang kerap berada dalam satu meja dengan Soekarno dan rekan politiknya, mulai saat Soekarno masuk ke dunia politik, hingga perumusan hal-hal besar. Aku juga membayangkan saat Soekarno tengah berada di penjara Suka Miskin, dan Bu Inggit berjuang sendirian di rumah, membuat bedak, menjahit baju, untuk sekadar mendapat rupiah tanpa merepotkan suaminya yang sedang dipenjara, atau ketika beliau dan Utami yang berjalan kaki berkilo-kilo dari rumah menuju Suka Miskin, dan beliau terpaksa berbohong jika mereka berdua naik dokar, sebab rupiah pun nyaris tak ada. Sebegitukah seorang istri yang menjadi pendamping lelaki yang tengah memperjuangkan bangsanya, hal-hal sederhana yang disembunyikan sekadar untuk membuat suaminya tetap fokus pada bangsa ini. Seorang istri yang mandiri, yang setia, yang memainkan perannya sebagai teman, kekasih, sekaligus Ibu bagi Sang Bapak Bangsa. Beliau menemani Soekarno hingga dalam masa-masa pembuangan, dari Ende hingga Lampung, hingga akhirnya Soekarno menuju ke pintu Gerbang. Namun sayang, seribu sayang, keteguhan hati Inggit Garnasih membawa dirinya pada perpisahan

“Itu mah pamali, ari di candung mah cadu”

“Saya tidak mau dimadu dan saya sudah cukup mengantarkan kamu (Soekarno) sampai gerbang cita-cita”

Oh betapa wajah ini dihinggapi bencana bah air mata, ketika harus mengenali nasib Bu Inggit. Tidak banyak yang menyadari kisah ini, namun hatiku serasa melambung jauh ke berpuluh tahun silam. Bu Inggit yang senantiasa menemani Soekarno dari masa masuk dunia politik, masa penjara, masa pembuangan, dan akhirnya tugas Bu Inggitpun terpaksa selesai ketika Soekarno harus meneruskan cita-cita di dalam Istana. Aku berharap, Tuhan memberiku kesempatan untuk singgah ke Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Jl. Inggit Garnasih no. 8, Bandung.

Aku juga mengagumi sosok Nyai Ontosoroh yang diceritakan Pram dalam buku pertama Tetralogi Buru; Bumi Manusia. Terima kasih untukmu, AP Kusuma yang menghadiahiku dengan Roman ternama ini. Bedanya dengan Bu Inggit Garnasih, aku harus merangkai dan melahirkan sendiri sosok Nyai Ontosoroh di dalam kepalaku. Sempat menggambarkannya seperti Happy Salma, namun ah…tidak, Nyai Ontosoroh adalah Nyai Ontosoroh yang tiada tandingan. Wajah yang belum pernah kutemui langsung, namun hidup dalam angan-anganku. Wanita bernama asli Sanikem ini dibeli oleh Totok Eropa dan membuatnya menjadi “Nyai”, yang pada waktu itu “Nyai” dianggap sebagai hal yang tak berharga. Namun, dari Tuan Mellema lah, Nyai Ontosoroh belajar tentang Eropa. Dari buku-buku Tuan Mellema, ia belajar dunia luar yang akhirnya membuat dirinya pandai berbahasa Belanda dan menangani perusahaan Boerderij Buitenzorg. Lagi-lagi, dalam kisahnya, Tuan Mellema ya begitulah tak mampu aku mengungkapkannya. Nyai Ontosoroh menjadi sosok yang dikagumi Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia. Mungkin jika aku menjadi Minke, aku akan mengaguminya dua kali lipat. Jiwa Ibu yang cerdas, berani, mandiri, ditumpahkan kepada anaknya, Annelies. Namun sayang, dendamnya terhadap Tuan Mellema tak terbantahkan. Bahkan saat Tuan Mellema tewas, yang akhirnya harus membawa Nyai Ontosoroh, Minke, Dokter Martinet, dan Ah Tjong ke pengadilan, Nyai menunjukkan dirinya di khalayak. Satu kisah di pengadilan yang benar-benar mengambil hatiku… tlah aku kutip ini dari halaman 426

…Dengan suara lantang dalam Belanda tiada cela -di bawah larangan hakim yang memaksanya menggunakan Jawa, serta ketukan palu-laksana air bah lepas dari cengkraman taufan ia bicara:

Tuan Hakim yang terhormat, Tuan Jaksa yang terhormat, karena toh telah dimulai membongkar keadaan rumahtanggaku… Aku, Nyai Ontosoroh alias Sanikem, gundik mendiang Tuan Mellema, mempunyai pertimbangan lain dalam hubungan antara anakku dengan tamuku. Sanikem hanya seorang gundik. Dari kegundikanku lahir Annelies. Tak ada yang menggugat hubunganku dengan Tuan Mellema, hanya karena dia Eropa Totok. Mengapa hubungan anakku dengan Tuan Minke dipersoalkan? hanya karena Tuan Minke pribumi? Mengapa tidak disinggung hampir semua orang tua golongan Indo? Antara aku dengan Tuan Mellema ada ikatan perbudakan yang tidak pernah digugat oleh hukum. Antara anakku dengan Tuan Minke ada cinta-mencintai yang sama-sama tulus. Memang belum ada ikatan hukum. Tanpa ikatan itupun anak-anakku lahir, tak ada seorang pun yang berkeberatan. Orang Eropa dapat membeli Pribumi sepertiku. Apa pembelian ini lebih benar daripada percintaan tulus? Kalau orang Eropa boleh berbuat karena, keunggulan uang dan kekuasaannya, mengapa pribumi jadi ejekan, justru karena cinta tulus?

begitulah sekiranya Nyai menanggapi ejekan, olokan, dan tawa cekikikan para Eropa di pengadilan itu. Oh sungguh betapa aku akan sangat merinding jika melihat seorang gundik yang mencoba menyerang mereka yang menghina itu, dengan keberaniannya, dengan kecerdasannya. Hingga suatu ketika aku mengungkapkan kepada seorang rekan bahwa aku ingin menghidupkan jiwa berani, berilmu, berakal, dan keibuannya ke dalam diriku, ia berkata… ” Pahami, resapi… Barangkali jiwa nyai Ontosoroh merasukimu, jadilah cerdas, jadilah bebal, jadilah berani seperti dia, buat lelakimu bangga seperti minke mengaguminya. Pengalaman dalam hidup, kejadian-kejadian entah besar atau kecil yg berlalu dalam kehidupan lalu lingkungan adalah pembentuk sifat dan pemikiran seseorang, kamu bisa lebih dari sekedar tokoh fiksi ciptaan Pram itu, kamu nyata!” Kuanggap itu adalah sesuatu yang membesarkan hatiku, membuatku berfikir dua kali, sungguh tiada daya menjadi sekuat Nyai Ontosoroh.

Dan ya, aku masih menyimpan banyak cerita dan alasan mengapa aku mengagumi sosok Bu Inggit Garnasih dan Nyai Ontosoroh. Wanita-wanita itu terlewat tangguh dengan cerita hidupnya. Dan untuk itulah hidupku sekarang, siapa lagi yang akan menguatkan, menunjukkan sebuah masa di depan jika tidak dengan diriku sendiri. Aku tak mau menggantungkan apa-apa pada siapa-siapa, karena seyogyanya lahir di duniapun aku tak membawa apa-apa dan sesiapa. Mungkin hidup telah menjadikanku semacam Sindy Asta hari ini. Aku bisa sekeras batu, bahkan yang paling keras, aku juga bisa selembut rambut perempuan pada iklan shampo yang berlomba-lomba mendapat konsumen itu. Aku bisa menjadi apa saja, tergantung ada apa dan siapa di depanku. Jika lemahku adalah ketakutanku, maka biarlah aku memeliharanya di dalam diriku, tanpa dunia harus menitiknya.

Tawa adalah tangis yang menyamar, dan untuk itulah aku membawa sebuah kematian ke dalam canda dan tawa. Jika aku tertawa sedikit lebih keras, maka percayalah di situlah aku menyembunyikan tangis rindu paling dalam. Sempat aku berkata, orang-orang kuat hidupnya sangat dekat dengan kehilangan. Belum genap tahun ke 21 hidup, namun kedua orang tuaku sudah tiada, menuju kekal, menuju Tuhan. Banyak yang berkata aku adalah seorang wanita yang kuat, menurutku tidak. Aku hanya menjalani hidup yang maha asyik ini, aku adalah lakon yang bermain dalam panggung punggung kehidupan. Badai telah berlalu, hari-hari baik juga berlalu, puan. Aku tidak ingin mati meninggalkan air mata dan menyisakan kesedihan. Tak ada sesuatu yang paling lemah dan kuat sekalipun, semua ada batasnya. Dan sekali lagi, Ibu… anakmu ini sedang berterima kasih pada segala yang memberi hidup pun juga mati. Tanpa kehilangan dirimu, aku mungkin akan menjadi anak yang selalu sembunyi di balik punggungmu. Dengan atau tanpa kau, Ibu… aku akan menjadi seperti ini, aku dinamis. Kau tak perlu hidup lagi atau menemuiku di dalam mimpi-mimpi, kau yang paling tahu dari atas sana, bahwa aku tak lagi cengeng karena sebuah kehilangan. Kehilangan adalah hal yang kini mulai menjadi bagian dari hidupku. Aku berhutang rumah 9 bulan kepadamu, dan semoga jelujur doa bisa menghangatkanmu di sana. Salam rindu dari anakmu yang kini menjadi musafir kehidupan, salam rindu dari waktu yang tak sempat membuat kau melihatku melakukan ini semua secara nyata.

Malang, 02 Februari 2016 23:46

 

Sindy Ridho Asta Sumartono,

Anak pertamamu.

Sandang Diagem

Akhir-akhir ini saya banyak merenung tentang hal-hal yang bersifat keyakinan. Keyakinan akan hidup, keyakinan akan hakikat diri sebagai manusia -atau sedikit lebih tepat jika belajar menjadi manusia. Bukan maksud hati tak yakin pada hidup, atau kehidupan, atau segala yang selalu menghidupi, namun bukankah hati harus selalu goyah, bukankah kepala harus selalu bertanya? Bukankah kehancuran itu datang dari hal-hal yang didiamkan?

Saya membuat skenario kecil-kecilan di dalam kepala saya. Saya, orang-orang, dan toko pakaian. Ada banyak sekali pakaian di sana, ada banyak sekali orang-orang di dalamnya, namun hanya ada satu saya diantaranya. Toko tersebut memiliki beberapa Merk pakaian, mari menyepakati untuk menyebutnya Merk 1, Merk 2, Merk 3, Merk 4, Merk 5, dan Merk 6. Setiap masing-masinya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Ada yang warnanya lebih putih, ada yang lengannya lebih panjang, ada yang hanya kain. Ada pula yang kurang pendek, kurang lebar, kurang hitam, kurang kancing, dan lain sebagainya. Namun begitulah sang Desainer merancang pakaian-pakaiannya. Sang Desainer pun sudah melakukan tugasnya dengan baik, membuat pakaian dengan segala filosofi, usaha, tata cara (mencuci, melipat, mengeringkan) hingga kemasannya. Sang Desainerpun tidak sombong akan mahakaryanya, sang Desainer juga tidak masalah jika di toko tersebut banyak Desainer pula dengan mahakaryanya masing-masing.

Saya melihat ada banyak sekali orang tua yang sedang memilihkan pakaian untuk si anak. Ada seorang Ibu dan Ayah yang memilihkannya pakaian dengan Merk 5, sebab si Ibu dan Ayah adalah konsumen tetap Merk 5. Ada pula si anak yang sudah berjalan pergi agak jauh, yang tadinya sudah mengantongi pakaian Merk 2, akhirnya kembali ke toko baju itu dan memilih sendiri pakainya… Merk 3. orang-orang berlalu lalang di etalase Merk mereka sendiri, ada yang menggantinya dengan yang baru, ada yang melihat-melihat saja, ada pula yang membanding-bandingkannya dengan etalase Merk lain. Yang lebih membahayakan adalah ketika sekumpulan penggosip tidak hanya membandingkan, melainkan mulai menunjukkan bahwa Merk merekalah yang lebih baik, lebih unggul, lebih diterima masyarakat, lebih mewah, lebih mahal, dan Maha Lebih pokoknya. Ada juga orang-orang dengan tangan jahil yang membawa pakaian dengan Merk yang mereka pakai dan mereka sisipkan pada etalase Merk lain dengan membawa sebuah kerusakan. Hasilnya adalah… citra Merk yang sesungguhnya sama baiknya ini menjadi buruk oleh si Pembawa yang tidak tahu makna pakaian, memakai, dan terpakai.

Toko itu kini sedang tidak baik-baik saja, orang-orang mulai menertawakan satu sama lain, orang-orang itu mulai merasa Merk pakaiannyalah yang paling baik, paling benar diantara Merk-Merk lainnya. Perang lisan hingga adu jotos terjadi hampir setiap hari di toko itu semenjak orang-orang mulai melihat kekurangan Merk lain dan meninggikan Merk sendiri. Namun tidak sedikit pula yang hanya menjadi penonton dalam keriuhan yang masih penuh tanda tanya itu. Entahlah, mereka diam karena merasa sudah lelah dengan pertengkaran-pertengkaran, atau mungkin mereka diam karena sudah bukan lagi waktunya untuk mendebatkan Merk mana yang paling baik, atau bisa jadi mereka diam karena mereka tidak ada masalah, sebab mereka tidak memilih Merk manapun.

Jika daritadi saya membuat skenario Toko pakaian dan Orang-orang, dimanakah peran saya? Ya… saya jelaskan, di sinilah saya. Berdiri melihat hiruk pikuk yang semakin kikuk, saya tidak berdiri di Merk 1, 2, 3, 4, 5, atau 6, saya tidak berkata bahwa Merk pilihan saya adalah yang paling bagus dan Merk pilihan orang lain jelek, tidak… saya tidak berkata itu, sampai akhirnya seseorang penonton tadi mendekat dan memecah keheningan saya.

“ Apakah kau memiliki Merk ? “, seseorang itu berkata tanpa ada opening sama sekali.

“ Oh ya… saya tentu memiliki Merk pilihan saya sendiri. Bagaimana dengan anda? “

“ Saya… hhmm… tidak, saya tidak memilih Merk manapun. “

“ Baiklah…. mengapa begitu, kalau saya boleh tahu? “

“ Saya yakin, untuk bertemu sang Desainer, saya tidak perlu memilih mahakaryanya, dengan segala spesifikasi, tipe, dan apapun itu. “

“ Oke… baiklah. “

“ Hanya seperti itu? Mengapa kau hanya bereaksi seperti itu ketika aku tidak memilih Merk? “

“ Mengapa tidak? “, jawabku tegas.

“ Mengapa kau tidak melontarkan kata-kata pahit seperti orang-orang yang membanggakan Merk-merk merek itu? “

“ Begini, ini kan Toko Pakaian dan ada berbagai Merk yang tersedia, semua orang bebas memilih Merknya sendiri-sendiri, semua orang bebas mengidolakan Desainernya masing-masing, termasuk anda…. tidak memilih Merk namun masih meyakini si Desainer. Pakaian menurut saya, apapun Merknya, tetaplah pakaian. Sesuatu yang saya pakai saat ini adalah sesuatu yang saya yakini bahwa ini bagus, ini pilihan saya, namun bukan berarti lebih bagus atau lebih buruk daripada pilihan orang lain. Yang saya takutkan adalah ketika saya berkata Merk pakaian saya adalah yang lebih baik daripada Merk lain, saya tidak sebaik itu. Barangkali cara saya mencucinya, menjemurnya, dan merawatnyapun belum sesuai dengan yang diingkan sang Desainernamun saya toh masih berusaha untuk itu. Dan pakaian inilah yang paling dekat dengan diri saya, ia menempel, menyentuh kulit saya dari atas hingga bawah. Menutupi bagian-bagian tubuh saya, sekaligus menjadi tameng atau penolong saya dari panas Matahari di luar sana, atau dingin yang menusuk tulang saya. Ya… meski baru-baru ini saya mulai mengetahui merawat pakaian saya dengan benar, namun saya tidak ingin menunjukkan ke orang-orang itu bahwa saya sudah mulai benar. Belum tentu benar saya, benar mereka juga. Lihat… apakah anda lihat orang di sudut kanan sana? Saking cinta dan bangganya terhadap Merk yang ia pilih, tanpa sadar ia melepas pakaiannya demi menunjukkan betapa bagusnya (pikirnya) Merk pilihannya. Ia begitu bangga hingga ia lupa hakikat dirinya sebagai manusia, dan hakikat berpakaian. Pakaian saya ini, ya begini ini. Saya yakin Desainer saya sudah membuatnya sesempurna mungkin, begitu pula dengan Desainer-Desainer lainnya. Ya meski pada puncaknya nanti hanya ada satu Desainer, saya yakin si Desainer tunggal itu jika ia membuat 6 Merk, maka yang akan kembali kepadanya juga 6 Merk.

Begitu ya… “, dia hanya mengangguk.

“ Pakaian saya adalah hal yang paling dekat dengan saya, paling menyentuh tubuh saya, paling melindungi saya, dan ya… paling dekat dengan jiwa saya. Saya tidak ingin hal yang paling dekat ini dianggap paling benar atau bagus, karena sayapun sendiri masih berada di lorong-lorong sunyi jauh dari Toko Pakaian ini dan bertanya-tanya kepada kesunyian yang meraja. Seberapa jauh saya sudah menelusuri apa yang benar di sini. Saya tidak ingin dibenarkan ataupun disalahkan, bahkan tidak ada sesuatu yang salah tidak ada sesuatu yang benar. Bola basket lebih besar daripada bola pingpong, bukan berarti Bola Basket lebih bagus karena ia sekadar lebih besar. Bola Bakset ya seperti itu, Bola Pingpong ya seperti itu. Sebesar apapun, sekecil apapun, keduanya memiliki keistimewaan masing-masing, punya lebih punya kurang. Mereka tidak akan tahu kelebihan mereka jika menyombongkan kekurangannya dan mereka juga tidak akan tahu kekurangannya jika menyombongkan kelebihannya. Diri saya, pakaian saya, hidup saya. Hidup saya untuk diri saya, pakaian saya adalah diri saya yang hidup. Pakaian saya adalah Sandang diantara Pangan dan Papan, dan sudah sepatutnya Sandang saya diagem. Sandang diagem, Ageman disandang. “

Si penonton tadi ternyata sudah lama menghilang, saya juga tidak lagi berada di Toko Pakaian itu. Kini saya berada di lorong sunyi saya kembali. Sunyi sekali, hanya saya yang berpakaian ini. Berjalan dan merenung sesekali, berusaha menemukan jalan untuk menuju kantor si Desainer. Lalu saya teringat sebuah kutipan; mencari apa yang benar bukan siapa yang benar, seperti itulah kata Sabrang MDP.

Gubuk Semesta, November 2015

Akibat merenung semalam di keheningan dan kesunyian.

Manusia dan 2 Cangkir Teh

Di sebuah fajar yang baru saja bangun dari peraduannya, kujelang hari seperti biasa; dengan 2 cangkir teh, untukku dan seorang ia.

“ Apa yang membuatmu membuat teh setawar ini? Apakah kau ingin menawar takdir yang akan terjadi padamu hari ini?”

“ Hmm… tidak, kurasa. Bukannya aku tak ingin membuat teh manis hari ini, namun dukaku menuntunku untuk tak menyentuh gula, atau apapun tentang sebuah hal yang manis.”

“ Mengapa? Mengapa seperti itu? Bukankah kau manusia dan kau butuh sesuatu yang manis untuk meriangkan dukamu? “

“ Apa itu manusia? “

Lagi-lagi di sekian hari, aku berhenti menjawab pertanyaanku sendiri. Aku sedang berusaha dengan sangat keras mengartikan apa itu manusia, disebut apakah orang-orang yang ada di sekitarku? Dilema yang besar sedang kualami tatkala salah satunya bersikap tidak sebagai manusia, melainkan yang lebih buruk dari itu.

Terkadang aku juga menanyai diriku sendiri, mengapa aku memanggilnya sebagai teman? Semata karena kita saling kenal dan kerap bertatap muka. Atau yang lebih intim sedikit yaitu sebagai sahabat, lantaran aku dan dia pun mereka sudah bertahun-tahun berbagi suka-duka dan sering bepergian bersama. Atau bahkan, kekasih… manusia tunggal yang ku anggap lebih spesial dari manusia-manusia di sekitarku. Ataukah aku harus memanggilnya musuh, sebab muara luka ada padanya? Oh Tuhan, marahkah kau kepadaku yang telah menggolong-golongkan ciptaanMu itu?

Denting jam berbunyi 5 kali, pertanda sore sudah hampir tiada. Sesingkat itulah waktu yang kugunakan untuk merenungi sebuah pertanyaan dariku tadi, Apa itu manusia. Lalu seseorang datang dan duduk di sampingku seraya bernafas agak berat.

“ Kau tahu, mungkin kau lebih baik untuk menganggap semua orang adalah sebagai manusia. Semua orang tanpa terkecuali. Tidak ada teman, sahabat, kekasih, atau bahkan musuh. Anggap saja semua adalah manusia dengan hak yang sama, mendapat rasamu. “

“ Apa yang kau maksud dengan rasaku?”

“ Kau terlalu menggolong-golongkan manusia berdasarkan apa yang kau rasakan. Kau sebut ia teman sebab kau rasa kau sudah mengenalnya. Kau sebut ia sahabat sebab kau sudah bercerita panjang lebar dan berbagi keluh kesah kepadanya. Kau sebut ia kekasih sebab kau curahkan cinta dan duniamu kepada ia seorang. Kau sebut ia musuh sebab kau membencinya, karena ia melukaimu dan menghancurkan apa yang ada di depanmu. Lihatlah, kau hanya membentuk sebuah golongan rasa yang terkotak-kotakkan. Kau bisa saja terlanjur bercerita tentang keluh kesahmu kepada orang yang baru 2 kali kau jumpai, atau bahkan kau juga mencurahkan cinta kepada sahabatmu, atau yang lebih parah kau sesekali membenci kekasihmu sendiri? Semua manusia itu sama, mereka juga berhak mendapat hal-hal baik darimu. “

“ Tapi sesekali aku membenci manusia. “

ia berhenti sejenak dan berdiri dari tempat duduknya. Matanya menerawang ke angkasa luas dan jatuh ke mataku.

“ Kalau begitu kau harus sedikit lebih banyak mengurangi gula yang ada di tehmu itu. “

“ Aku sudah menguranginya, bahkan aku tak menambahkan sebutir gulapun ke dalamnya. “

“ Maka… kurangilah daun tehmu. “

“ Tapi… “

“ Kurangi air dan kosongkan gelasmu. “

Ia pergi dan langit sudah lama gelap, tersisa jutaan bintang yang sesekali jatuh dan bsebuah bayang di atas danau, manusia.

Surat Kepada Rumah

Langit sedang cerah merayakan Kemarau yang baru saja tiba dari perjalanan jauh menempuh pemanasan global. Tak ada mendung, tak ada awan yang murung. Puncak Mahameru terlihat dari sini, begitu megah, begitu melambaikan asapnya semacam membujukku untuk kesana. Namun kali ini aku tidak sedang mempersiapkan diri untuk memuncakinya, kali ini aku sedang menulis surat. Di bawah terik Matahari sore, kucoba menata kata dan kita pada selembar surat. Dengan segala rasa akupun menumpahkan segelas jiwa;

Kepada Rumah….

Ingin sekali aku pulang dari perantauan duniawiku ini. Aku lelah, tapi terkadang itu tak mengapa. Hanya saja di sore yang indah ini aku ingin menyampaikan angan dan inginku untuk pulang ke rumah. Aku rindu pelukan Ayah dan Ibu serta hangatnya kebersamaan. Di tanah rantauku ini aku kedinginan, gedung kota seakan menjadi momok yang terus melirik sinis kepadaku. Belum lagi rupiah yang harus kutukar dengan waktu dan tenaga demi menghidupi diri dan orang-orang yang bergantung kepadaku. Aku ingin pulang ke rumah dan bersantai di balik jendela lebar dan gorden yang menari lembut dan tanaman-tanaman di dalam botol yang merefleksikan cahaya menjadi warna-warni indah di kakiku.

Aku rindu rumah, dan aku ingin pulang.

Selama ini aku sangatlah jauh dari peluk erat dan cium kening Ayah dan Ibu. Aku pergi terlalu jauh dan sedikit tersesat. Aku pilu memilih tiket pulang, sebab arus mudik sedang berlangsung. Aku tak ingin kehabisan tiket dan menunggu bersama waktu dan zaman lagi untuk bertemu Ayah dan Ibu.

Rumah…

Apakah kau masih setia menungguku pulang? Kuharap letak sepasang meja dan kursi di beranda itu tidak berubah, sebab disanalah Ayah menceritakan masa-masa kejayaannya dulu. Ia sering mengisi acara-acara pentas atau drama, menjadi pantomim, hingga menjadi pemain band multi talent. Dan juga ditemani Ibu yang menjahit sarung bantal baru karena mendapat kain dari rekannya. Aku rindu semua itu, Rumah…

Mungkin benar, aku masih di tanah rantau. Aku tak punya bekal apa-apa untuk dibawa pulang, tapi aku hanya punya sekarung cinta untuk Ibu dan Ayah. Saat ini memang keadaan sedang tidak berpihak kepadaku dan siapapun itu. Dunia terasa semakin asing dan orang-orang yang kukenal menjadi asing. Aku tak bisa menyalahkan juga jika aku harus menangisi kesia-siaan ini. Bukankah itu hal yang wajar? Setidaknya, kini air mataku adalah jenis yang pemalu. Ia tak ingin dilihat oleh orang banyak, jadilah aku… yang menemaninya di sudut ruangan.

Oh ya Rumah…

kau masih sedamai dulu kan? Kau masih dipenuhi aroma Teh Naga kan? ah… aku rindu kau Rumah… di sini, terkadang yang keluar dari mulut manusia bukanlah ucapan dan bau, melainkan pisau, dan aku kehabisan darah.

Aku rindu kau Rumah… ingin sekali akhir pekan ini aku pulang

dan memeluk Ayah dan Ibu.

Tak terasa waktu telah memakan segalanya dan aku hanya menatap nanar pada langit yang menjadi gelap. Sembari alunan lagu ini menghiburku dan mengajakku menari dengan liriknya…..

Jauh sudah aku berjalanRasakan pahit, rasakan manis

Rasakan gelap, rasakan terang

Sampai ku tak tahu jalan pulang

Tinggi aku terbang semakin tinggi

Lewati awan hampa udara

Hingga ku lemas, hingga ku jatuh

Tapi… aku harus bertahan hidup
Tolonglah… tolonglah…Tunjukkan jalan kerumahku…

Tolonglah… tolonglah…Beri udara ‘tuk nafasku
Siapa yang akan menolongku

Pegang tanganku bawa kerumahku

Rasakan kasih, rasakan sayang

Hangat pelukan, hangat kecupan
Ada teh hangat, dan roti bakar

Bantal yang empuk, kasur yang lembut

Ada larangan, ada aturan

Tatapan mata penuh curiga
Gorden yang cantik, dapur yang unik

Dan anak kecil panggilku ‘Ibu’

Dan seorang pria… ucapkan salam ‘Slamat Pagi’

Aku jadi rindu rumah…

Diam-Diam

Diam-diam ada maksud dari “selamat pagi, jangan lupa semangat” darimu minggu lalu

kau tidak benar-benar menyelamati pagi, bukan? bilang saja jika kau hanya ingin membuka pembicaraan denganku.

Diam-diam ada isyarat dari “Ayo pergi ke sana, kan ku ajak kau melihat hal-hal indah”

kau pun tahu bahwa hal indah itu telah lama pergi dariku, kau hanya ingin waktuku, bukan? bilang saja kau ingin bersamaku sedikit lebih lama.

Diam-diam ada sesuatu di “Ayolah, berceritalah… untuk apa memeluknya sendiri. ”

kaupun tahu, rahasia berbicara adalah mendengarkan. kau hanya ingin aku berbicara, bukan? karena kau pendengar dan suka menyela, dan itu tak tak menjadi soal bagiku.

Diam-diam ada makna di balik “Kita manusia terkadang tak sadar jika yang kita tunggu ada di luar sana, kita menunggunya sedang ia tak selalu memikirkan kita. Padahal ada seseorang di hadapanmu, tempatmu berkeluh kesah, yang dengan setia selalu ada untuk kita. Bukankah itu sebuah hal yang terlewat?”

kau tahu, kau adalah subyeknya, bukan? karena kau yang selama ini melakukan itu padaku namun kau sedikit membuinya dengan ibarat.

Diam-diam…

Diam-diam di sebuah jalan panjang itu aku melamun

kau memunggungiku dan sempat ingin hati untuk memelukmu, tapi untuk apa? akupun tak tahu.

Diam-diam aku memikirkannya semalaman

kau barangkali juga begitu, aku hanya ingin tahu siapa aku di matamu?

Diam-diam aku diam

kaupun juga diam

dan diam kita saling multi tafsir.

Pertanyaan dalam jurnal warna-warni:

Mengapa Sudjiwo Tedjo berkata “Cinta itu nyawiji, jika kau mencintai dua-duanya kau akan menyakiti salah satunya”. Apakah maksud Sudjiwo Tedjo tersebut? Alangkah indahnya jika cinta itu tak terbatas, manusia yang membuat batas-batasnya sendiri. biarkan aku menjadi manusia dan menganggap semua manusia. Cinta itu tunggal, manusia yang membuatnya tanggal.

Sindy Asta

15 September 2015.

Apakah Kita Jatuh Cinta – Awal

Manusia tidak bisa memilih takdirnya, lebih-lebih dengan siapa ia akan bertemu, apa saja yang ia obrolkan, hingga mimpi-mimpi apa saja yang akan ia utarakan. Manusia juga tidak bisa membujuk Tuhan agar mempertemukannya dengan seseorang yang akan berhasil mengisi mangkuk kehidupannya dengan beraneka ragam rupa buah dan sayur, bisa saja ia mendapat semangkuk cuka tanpa tambahan apa-apa. Semua mengalir apa adanya, semua tampak seperti biasa-biasa saja. Pada garis-garis yang telah ditetapkan, seorang manusia bisa menjalani takdirnya dengan penuh suka cita atau dengan air mata. Terkadang ia merasa garis yang dilaluinya bukan sebenar-benar garisnya, melainkan garis milik orang lain yang menawarkan lebih banyak keindahan. Bukankah memang begitu, manusia akan lebih tertarik kepada sesuatu yang bukan miliknya? Entahlah… Garis takdir masih akan tetap menjadi misteri, dan kita adalah anak kecil yang gemar bertanya.

Sampai suatu ketika, entahlah ini hanya buah pemikiranku, setiap sepasang telapak kaki manusia yang menginjak bumi, dan selama ia mengikuti rotasi Bumi, sebuah magnet di bawah tanah akan mempertemukan dua kutub yang saling berbeda. Akupun juga tidak tahu mana kutubku yang sama dan beda, yang jelas pada hari yang begitu entah aku bertemu seorang manusia yang aku tak mengerti identitasnya. Malam menyelimuti Kota yang tengah dilanda musim hujan ini. Semua tampak terasa samar di tengah lampu remang dan mendung yang memeluk langit malam. Diantara pria-pria yang lalu lalang di hadapanku, ada satu pria yang akupun tak tahu dan tak mau tahu saat itu. Aku merasa biasa saja dan semesta juga tidak memberi tanda-tanda. Hanya mendung, minus bintang, dan… pria yang berlalu-lalang.

Aku mungkin saja bertemu lebih banyak pria setelahnya, mungkin saja aku berbicara lebih banyak kepada mereka ketimbang kepada satu pria yang kuanggap biasa-biasa saja malam itu. Hari-hari membawa begitu banyak pertemuan-pertemuan yang tak terduga, dan saat itulah Semesta memainkan perannya. Pada kesempatan yang entah dan ingatan yang mulai pudar, aku bertemu lagi dengan pria yang kuanggap biasa-biasa saja itu. Kita mulai berbicara hal-hal mendasar dan membosankan. Nama, rumah, pekerjaan, dan ah… apalah itu saking bosannya pun aku sampai lupa. Namun tak kuduga, percakapan itu berlanjut lebih dalam. Mengenai musik, film, dan ya… hal-hal minor dalam hidup. Aku rasa aku salah menilai orang pada awalnya, bukankah kita semua begitu?

Manusia tidak bisa memilih takdirnya, lebih-lebih menolak takdir yang menghampiri hidupnya. Awal adalah bagian penting dalam hidup seseorang. Baik maupun buruk, awal tetaplah sebuah awal.

sebuah tantangan hadir dalam dimensi yang kian berbeda. seseorang dari masa lalu menantangku untuk membuat novel kisah cinta based on true story, and it was our story. Entahlah, barangkali hanya dengan aksara, kita aku dan dia bisa menyingkap masa-masa yang sudah tidak bisa dilalui bersama. Bahagia sudah menjadi garis masing-masing, dan ini tidak akan merubah apapun.

Don’t be any regret after this.

Sindy Asta.

Radiohead di tepi Samudera Hindia

Gadis itu bernama Julia, ia sedang berlari kencang menuju puncak tebing tinggi untuk melihat ombak Samudera Hindia yang menghantam-hantam karang di bawahnya. Angin bertiup sedikit kencang saat ia hampir sampai ke puncak, dan membuatnya sedikit terpeleset hingga hampir jatuh ke bibir tebing. Ia menghela nafas dan membangkitkan dirinya untuk sampai ke puncaknya.

Kini hamparan laut biru tersebar di hadapan kedua mata Julia, tak ada perahu, tak ada nelayan, tak ada anak pantai, tak ada lapangan sepak bola, tak ada gedung, tak ada keramaian, tak ada pedagang minuman segar, hanya laut yang berwarna biru gelap. Julia merogoh tas kecil merahnya dan mendapati sebuah ponsel keluaran lama yang belum bisa dikatakan pintar. Di layarnya terdapat sebuah lagu yang siap diputar. Entahlah… padahal Julia tak juga berniat untuk membuka aplikasi musik.

Sebuah lagu yang cukup kelam untuk dinikmati dari atas sana. Julia duduk dan melamun, sedang ponselnya menjeritkan senandung cerita tentang seseorang yang mencoba membunuh dirinya untuk sebuah pengakuan, memecahkan beberapa cermin, dan berubah menjadi seseorang yang bukan dirinya, dan hal terbaik yang pernah ia miliki, yang terbaik dari yang pernah ada telah pergi.

Julia mendapati didirnya tenggelam terlampau jauh dalam lagu itu, ia kini meringkuk dan memeluk kedua lututnya dan sedikit menangis. Dunia sedang tidak bersahabat, kehilangan telah memeluknya dengan erat dan ia hanyalah seorang Gadis yang ingin semuanya kembali. Lagu itupun perlahan berhenti berlirik, menyisakan petikan satu, dua senar gitar, dan sebelum berakhir, Julia memutarnya ulang.

Two jumps in a week I bet you think that’s pretty clever don’t you boy?… Julia ingat minggu lalu ia menjatuhkan dirinya dari tangga sekolah hingga ke tepi lobi, meninggalkan bekas luka dan memar di kanan dahinya. Kini ia menangis lebih keras, memandangi lautan lepas dari balik banjir matanya. Ia perlahan bangkit dan menuju bibir tebing paling ujung, melihat ombak yang semakin keras menghantam karang-karang runcing. Nampak jelas bahwa di bawah sana ada beberapa karang yang akan melumat tubuhmu sebelum kau jatuh ke dasar lautan. Julia melompat dan terbang dari ketinggian bukit. Air matanya bak hujan yang jatuh ke atas. Tubuhnya meroket ke bawah dan karang-karang runcing semakin dekat dari terakhir kali ia melihatnya di atas sana. Debur ombak terasa di raut mukanya dan karang meruncing di matanya!

Gulungan ombak berakhir pada tepi pasir pantai yang sedikit dipenuhi rumah-rumah kerang dan keong, membuat suara gemericik dan aroma lembut lautpun terbawa. Gulungan ombak itu juga meninggalkan bekas pasir pada kedua kaki Gadis yang memandang kosong ke arah Samudera Hindia. Gadis itu baru saja pulih dari luka-luka di kepala dan hatinya. Ia lalu memandang ke atas tebing tinggi di sisi kiri pantai tersebut. Di tangan kanannya, ia mengenggam ponsel dengan aplikasi musik yang sedang memutar lagu Radiohead.

Bagaimana mempersiapkan Touring Sepeda Jarak Jauh?

Sangat membantu sekali infonya 🙂 #2018

Duc In Altum

touring equipment

Ini beberapa hal yang menurut saya lumayan penting untuk disiapkan kalau mau touring jarak jauuh dengan bersepeda. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya. Semoga bermanfaat.

  1. Ceritakan ke teman-teman dan juga keluarga tentang rencana kamu bersepeda.

Kenapa? Iya cerita aja, bisa nambah motivasi lho. Kasih tau alasannya, biar ga dikira setress.

Kalau bisa jauh-jauh hari. Kalau punya pacar minta ijin deh sama pacar, supaya siap-siap LDRan. Kalau gak mau ribet sama urusan pacar, putus aja haha.. kalau yang sudah punya istri, harus punya surat jalan dari istri. Jangan kabur, entar pulang-pulang tau-tau istri minta cerai, bahaya hehe.. lebih seru lagi, kalu bisa touring bersepedanya sama pasangan. Minta restu sama orang tua, terutama nyokap. Itu penting, paling penting. Sama bokap juga penting sih.

View original post 475 more words